![]() |
| deviantart.com |
Senar Raket : Bagaimana yang Benar ????
Kalau sebelumnya kita telah membahas tentang Bagaimana memilih Raket Badminton; maka kali ini Saya sedikit akan berceloteh tentang ”tarik-menarik”; eh maksud Saya tarikan senar raket yang kira-kira akan pas dan nyaman untuk digunakan.
Begini ya? Perlu Anda tahu untuk Anda-Anda semua yang masih berkategori pemula atau baru saja mengenal olahraga Badminton dan baru beberapa kali memegang raket; maka sedikit Saya kabarkan kepada Anda bahwa senar yang teranyam pada Badminton yang terletak pada bagian headnya dan dianyamkan melaui frame raket memiliki tarikan dan kekencangan tersendiri.
Entah tarikan senar itu telah ”ditarik” dan disetel secara sengaja menggunakan alat. Ataupun cukup hanya ”dianyam” dan dipasang menggunakan tangan kosong; Yang pasti senar pada Raket Badminton memiliki kadar tarikan dan kekencangan tertentu.
Biasanya di bagian grip dan cap nya terdapat tulisan yang berisi spesifikasi dan rentang kekuatan tarikan senar yang dibolehkan pada raket itu.
1 ) Misalnya saja pada raket tersebut ada tulisan 3U / G3 20 – 34 Lbs. (biasanya Yonex)
2) Atau semisal : 30LBS-13.6KG (pada karakal, Hi Qua, dlsb)
Sedangkan bagi Anda yang sudah mahir, bahkan berpredikat master dan sudah banyak makan asam garam di dunia teplok bulu pasti Anda sudah mengetahui perbedaan jenis dan tarikan senar. Anda yang sudah berpengalaman pasti sudah hafal dengan jenis senar raket yang biasa Anda gunakan beserta tarikannya.
Jadi ketika Anda mampir ke toko olahraga untuk memasang senar perhatikan terlebih dahulu spesifikasi raket yang akan anda pakai
Karena jika anda tidak berhati-hati dan tidak memperhatikan hal ini; bisa jadi raket anda akan bengkok atau frame raket anda menjadi cepat rusak
Lalu Bagaimana Memilih Senar dan Menentukan tarikan yang benar ???
Ikuti terus artikel dalam mahardiablo.blogspot.com ini ya ?
(Bersambung.....)
Karena jika anda tidak berhati-hati dan tidak memperhatikan hal ini; bisa jadi raket anda akan bengkok atau frame raket anda menjadi cepat rusak
Lalu Bagaimana Memilih Senar dan Menentukan tarikan yang benar ???
Ikuti terus artikel dalam mahardiablo.blogspot.com ini ya ?
(Bersambung.....)
![]() |
| deviantart.com |
Yonex adalah salah satu contoh market branding yang sukses di bidang sport. Kini, Yonex telah menjelma sebagai salah satu perusahaan produsen peralatan olahraga terkemuka yang sukses dan kini sudah berhasil merajai penjualan dan pemasaran di bidang raket dan sport equipment utamanya di cabang olahraga badminton dan tennis.
![]() |
| deviantart.com |
Bagi Anda, pecinta olahraga Badminton yang mengaku sebagai WNI (Warga Negara Indonesia ), pernahkah Anda bertanya; kira-kira sehebat apa sih kiprah Negara kita ini di berbagai ajang pertandingan badminton dunia ?
Atau bagaimana sih sepak terjang dan perjalanan tim badminton negeri ini di perbulutangkisan internasional ?
Tahukah Anda ??
Sebenarnya Indonesia adalah macan Asia di dunia perbulutangkisan Internasional.
Sosialitas Manusia
( menemukan makna korelasi dengan yang lain )
Aku – Engkau bersama dalam Cinta
( menemukan makna korelasi dengan yang lain )
Aku – Engkau bersama dalam Cinta
Aku terhimpit di tengah Sosialitas & Keotonomian
Aku “manusia” adalah sebuah dualitas dan kesatuan di dalam diriku.
Kali ini kawan… Aku terpikir tentang keberadaanku di dunia ini bersama Engkau (jutaan bahkan milyaran ekor manusia lain).
Seolah tiba-tiba saja sejak dahulu ketika Aku terlahir; Engkau, mereka dan dunia; semuanya sudah berada di sekitarku..
dan tidak hanya itu, kusadari mereka juga berusaha membentukku untuk menjadi “manusia” (seperti halnya mereka) di dunia ini !
Kali ini kawan… Aku terpikir tentang keberadaanku di dunia ini bersama Engkau (jutaan bahkan milyaran ekor manusia lain).
Seolah tiba-tiba saja sejak dahulu ketika Aku terlahir; Engkau, mereka dan dunia; semuanya sudah berada di sekitarku..
dan tidak hanya itu, kusadari mereka juga berusaha membentukku untuk menjadi “manusia” (seperti halnya mereka) di dunia ini !
“ Aku Manusia bentukan sekaligus pembentuk Duniaku “
Aku telah menyadari bahwa aku memiliki kekhasan tersendiri; keunikan sebagai subyek yang otonom; sebagai individu yang unik dan juga person yang sangat khas.
Namun, kini kusadari di samping kedua hal itu; terlintas di benakku orang-orang di sekitarku yang terus menerus muncul di hadapanku, mereka hampir muncul setiap detik; entah itu di rumah, kampus, pertokoan, masjid, wc umum, bahkan kadang masuk ke alam mimpi. Hal ini terus terjadi dan tak terelakkan; belum lagi jika aku terpikir dengan dunia infrahuman; rasanya memang aku tidak sendirian (walau kadang merasa kesepian); dan kurasakan mereka juga berperan untuk “mengkonstruksi” diriku.
Namun, kini kusadari di samping kedua hal itu; terlintas di benakku orang-orang di sekitarku yang terus menerus muncul di hadapanku, mereka hampir muncul setiap detik; entah itu di rumah, kampus, pertokoan, masjid, wc umum, bahkan kadang masuk ke alam mimpi. Hal ini terus terjadi dan tak terelakkan; belum lagi jika aku terpikir dengan dunia infrahuman; rasanya memang aku tidak sendirian (walau kadang merasa kesepian); dan kurasakan mereka juga berperan untuk “mengkonstruksi” diriku.
Aku dianggapnya sebagai teman mereka, anak mereka, saudara mereka, aku diberi nama buatan mereka (walau aku tidak pernah minta). Seolah tanpa diminta, mereka memberi peran padaku dalam drama kehidupan ini; diberi nama yang baik-baik menurut mereka, aku diberi peran dan status; entah sebagai mahasiswa, kawan, musuh, pengkhianat dan lain-lain, serta dikenali sebagai pribadi yang bersifat tertentu (misal : nakal, pintar, jujur, licik, dlsb.) dan intinya Aku “berada“ sekaligus menyentuh & memiliki duniaku, orang tuaku, temanku, musuhku, pacarku. dlsb
Well…intinya Aku diadakan oleh yang lain. Begitu juga sebaliknya; aku juga turut berperan mengonstruksi mereka. Mungkin inilah yang disebut sosialitas; karena kita berada di dunia ini tidak sendiri; karena “kita berada bersama“ di dunia ala manusia.
Oh, iya kawan… Aku juga merasakan hal-hal aneh akhir-akhir ini.
Aku merasa sebagai seekor manusia yang selalu ingin mendapat perhatian mereka, Aku ingin dianggap sebagai bagian dari kelompok & anggota mereka; Aku ingin berguna buat mereka, disayangi, dicintai, diperhatikan. Seolah perasaan ini terus muncul dan tak dapat kuhindari. Mungkin inilah yang menyebabkan kita hidup damai di bumi ini; karena kita punya rasa cinta kasih terhadap sesama (manusia & selain manusia). Harmoni ini terwujud dalam :
Aku dengan Engkau (subyek dan subyek) serta Aku dengan anjingku, rumahku, motorku… (subyek dan obyek).
Aku tidak dapat hidup tanpa mereka karena mereka seolah menjadi satu bagian dengan duniaku. Aku butuh teman bicara, teman berkelahi, pacar, istri, bahkan suatu saat nanti aku butuh orang untuk membantu mengantarku ke liang lahat (karena Aku malas jalan ke kuburan sendiri. He..he..he...)
Beginilah susahnya jadi seekor manusia…
Aku otonom dalam korelasi…
Aku berkolerasi dalam otonomi…
Aku Homo Socius sekaligus Subyek Otonom
Aku otonom dalam korelasi…
Aku berkolerasi dalam otonomi…
Aku Homo Socius sekaligus Subyek Otonom
Si licik : Percayakah engkau wahai sahabatku tentang keberadaan Tuhan ???
Si Tolol : Heh ?? ; Kalau saya sih belum pernah melihat-Nya langsung dengan mata kepala saya sendiri; jadi saya tidak bisa percaya begitu saja. Tapi saya menduga bahwa Dia benar-benar Ada !
Si licik : Lalu Kenapa engkau sekarang beragama ???
Si Tolol : Ya eeyaalaaah…; secara gitu lho! Saya beragama karena saya anggap Tuhan itu ada
Aku yang terlalu Teknokratis…Aku Manusia... Makhluk yg sangat Tekhnokratis.....
Aku yang Super Hebat…
AKU yang sekarang ini hadir di duniaku kini; telah dilengkapi dengan sparepart yang teramat canggih.
Aku telah dilengkapi berbagai potensi dan kuasa untuk menunundukkan segala di alam ini yang ingin kukuasai; jangankan bumi; sebentar lagi seluruh galaksi akan kulintasi dan kutaklukkan. Akan kutulis namaku di gugusan bintang di angkasa dan di kaki langit :
“ Aku manusia penakluk segalanya “
Tahukah engkau wahai kawan (yang sedang membaca tulisan ini) ???Apa yang membuat Aku kelewat hebat ??
Karena dahulu Aku telah mengalami perjalanan panjang setelah terusir dari surga ( baca riwayatku sebelum Aku dijatuhkan ke dunia ini !!! ). Aku dilengkapi dengan organ yang disebut OTAK ( bukan otak-otak! ).
Dengan organ inilah AKU dapat berpikir, berencana, mengukur, meramal dan akhirnya menaklukkan alam seisinya.
Aku adalah makhluk yang berpikir terlampau jauh, terlampau jauh hingga mengalahkan kekuatan liar alam yang kekuatannya tak sebanding dengan besarnya volume otakku.
Jangan kau kira otakku yang mungil ini hanya sebagai souvenir saja! “Aku berpikir maka Aku ada” lebih jauh lagi “Aku berpikir maka alam akan tunduk padaku” (ungkapan Descartes tadi sudah kuno dan ketinggalan zaman; dan oleh karenanya Aku berhak mengubahnya)
Sejak Aku di depak dari surga (karena kontrakan sudah habis); Aku diberi oleh-NYA sertifikat kepemilikan bumi (dunia) ini. Di alamku yang sekarang ini; aku menciptakan suatu kebudayaanku.
Dalam kebudayaanku ini, Aku juga terus menerus berevolusi dan mengembangkan ilmu & pengetahuan-ku. Di duniaku, aku mampu mengolah, merekayasa, dan menjadikan dunia ini sebagai rumahku (sesuai dengan yang ku kehendaki). Namun kini, aku menyadari bahwa aku terikat dengan alamku ini. Walau bebas merekayasa, namun ternyata hukum-hukum yang berlaku di alam tetap tak bisa kuabaikan begitu saja. Harmoni dengan alam harus tetap selaras dengan perkembangan budayaku.
Dan kini kuberitahukan kepadamu kawan, bagaimana aku menaklukkan & merekayasa alamku dengan perlengkapan + sains dan teknologi untuk melakukan cultivation & construction
Aku menyadari bahwa tanganku yang kecil ini tentu tak akan sanggup mengangkat beban yang kelewat berat; aku juga menyadari bahwa telinga anjingku lebih canggih daripada telingaku. Namun, aku tidak diam begitu saja melihat kenyataan ini; Dengan teknik yang kumiliki (teknik berpikir, belajar, bekerja, mencipta) aku dapat mengatasi keterbatasan fisik dengan menciptakan tools yang mempermudah kegiatanku.
Dan kini… telah kuganti tanganku dengan traktor untuk mengangkat batu besar itu; kuganti mataku dengan teropong dan lensa optikal hingga setajam penglihatan seekor elang; kubuat bom untuk membunuh sesamaku; kugunakan robot sebagai kawan.
Tahukah engkau kawan ???
Sebentar lagi Aku sudah tidak lagi membutuhkan Tuhan. Kurasakan kehebatanku ini semakin menjauhkan Aku dari-Nya & semakin aku melupakan peran-NYA kepadaku.Kurasakan sudah cukup hebat diriku dengan segala ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang kumiliki. Kurasakan inilah saatnya Aku yang menjadi Tuhan buat diriku sendiri
Dan sebentar lagi Tuhan akan mati… Dan Kita sebagai manusia, makhluk paling sempurna yang telah diciptakan-NYA yang akan membunuhnya…
“ Aku memang manusia hebat ”
Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuhan Tuhan]?
[Nietzsche, The Gay Science, seksi 125; terjermahan Walter Kaufman]






